Dara Herlambang seorang gadis manis, anak sulung dari pasangan Hera dan Bambang telah menapakkan kakinya di bangku SMA. Dia memilih sekolah di SMA 78 Jakarta yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya, Komplek Pajak jalan Bakthi IV/I Kemanggisan, Jakarta Barat. Selain kedekatan rumahnya dengan sekolahan, Dara pun merasa senang karena dia masih bisa satu sekolah lagi dengan kekasihnya yaitu Nabil Firdaus. Dara berpacaran dengan Nabil sejak duduk di bangku SMP kelas 2. Setelah lulus SMP mereka sepakat untuk melanjutkan sekolah di tempat yang sama. Dan akhirnya Tuhan mengabulkan permintaan sepasang kekasih yang selalu harmonis itu. Dara juga mempunyai dua orang adik laki-laki bernama Dika dan Deva yang masih duduk di bangku SD. Deva berusia 9 tahun, adalah adik Dara yang suka sekali mengabiskan coklat Dara yang di kasih oleh Nabil, Sedangkan Dika adik Dara yang amat bandel, ulahnya selalu membuat Dara naik angin ketika adiknya itu merusakkan senar gitar Dara. Dika mempunyai watak sama seperti Dara, senang akan dunia seni terutama musik. Makanya setiap Dara tidak ada di rumah, Dika berusaha mengindap-ngindap masuk kekamar Dara untuk mengambil gitar. Suatu ketika Dara pernah di buat marah ketika mengetahui senar gitarnya putus gara-gara adiknya. Dan itu bukan yang pertama kali, mungkin sudah sekian kalinya gitar Dara senarnya putus, bahkan pernah sampai mau patah. Entah apa yang diperbuat adiknya itu.
Nabil cowoknya Dara adalah seorang gitaris yang hebat dalam group band "Nada". Band Nada adalah sebuah group band yang didirikan oleh Nabil dengan mengambil dua kawanya plus kekasihnya sendiri untuk ikut gabung bersama, sehingga semua menjadi empat personil yaitu Nabil (gitaris), Dara (vokalis), Bagas (drumer), Rio (bassist). Nama Nada diambil dari gabungan nama sepasang kekasih itu, yaitu Nabil dan Dara hingga menjadi Nada. Dara adalah seorang cewek yang selalu suka dengan tantangan, hingga dia berlatih keras untuk bisa bermain gitar layaknya kekasihnya itu. Walaupun Dara juga bisa menguasai gitar, tapi kemampuan Nabil jauh lebih okey dibandingkan Dara. Baby itulah sebutan sayang antara Nabil dan Dara ketika mereka memanggil masing-masing. Sekolah bersama, latihan band pun bersama hingga mereka terkenal pasangan terhamonis dalam sekolahnya. Dimana ada Dara disitu pula ada Nabil.
Artika Thesa Pangaspuri, yang biasa di panggil Thesa. Dia adalah teman sebangku Dara dari pertama masuk sekolah. Thesa sama halnya dengan Nabil, dimana ada Thesa disitulah ada Dara, bahkan biasanya mereka selalu bertiga saat istirahan di kantin. Thesa pun dekat dengan keluarga Dara begitu pula dengan kekasih Dara. Main bareng, mengerjakan PR bareng, bahkan baju pun saling tukeran. Mungkin pertemanan mereka sudah melebihi layaknya kakak beradik, Thesa kakaknya dan si manja Dara adalah adiknya. Tetapi sifat mereka berlainan, jika Dara seorang yang centil dan gemar banget menggeluti dunia tari, sehingga di sekolah dia ikut ekstrakulikuler bahkan dia sudah dijadikan ketua cheerleader, melainkan Thesa seorang yang gemar berorganisasi dan tidak terlalu pandai akan dunia seni, dunia yang di gemari Dara. Bahkan ketika mereka asyik ngobrol, pernah suatu ketika Thesa menyebutkan tipe cowok yang disukainya adalah tipe cowok smart, cool, religius okey dan suka berorganisasi. Tipe tersebut pas banget dengan sifat Nabil, sedangkan ceweknya Nabil alias Dara menyukai tipe baik hati, sedikit sombong biar tidak terkesan murahan anggapnya Dara, dan bisa menerima dia apa adanya.
"Dara sayang". mama dara memanggil Dara ketika melihat Nabil sudah menjemputnya di depan rumah.
"Ya mam". Sahut Dara sambil lari membawa roti berlapiskan coklat, yang biasa buat sarapan Dara waktu pagi hari.
"Mam, Dara berangkat sekolah dulu yach bilangin ma papa juga, Dara pamit".Nabil dengan motor ninja sudah menanti pujaan hatinya di depan sambil tersenyum lebar menyabut si centil Dara. Dara pun selalu membalas senyuman Nabil dengan sikap yang manja.
"Bab...". Sapa Nabil.
"Apa????". Sambil terbengong melihat Nabil yang menatap tajam pada wajahnya dan seakan wajah Nabil semakin dekat dengan Dara.
"Uh....baby ku, makan aja masih blepotan kaya anak kecil". Nabil mengerakan jari jempol tangannya untuk membersihkan mulut Dara yang berlumuran coklat.
Hari-hari yang dilalui Nabil dan Dara selalu membawa senyuman dalam hidup mereka masing-masing. Jarang terlihat mereka gaduh atau bertengkar di mata semua kawan Dara dan Nabil. Seperti langit dan bintang, dimana disitu ada langit pastilah bintang penghiasnya. Mungkin Thesa di ibaratkan bulannya karena Thesa adalah kawan sebangku Dara. Thesa adalah kawan yang pertama dekat dan di kenal dengan Dara setelah masuk SMA 78 Jakarta. Tetapi suatu ketika Dara berada di posisi yang sangat menyulitkan dirinya untuk menentukan pilihan, antara Nabil dan Thesa.
"Bab...ku ada sesuatu yang ku ingin bagi tahu dengan kamu, dan ku harap kamu menyetujuinya".
"Apa bab..cepet bagi tahu". Sahut Dara penasaran.
"Aku mao bab, bantu aku yach nyiapin semua dan menjadi supporter". Sambil menyodorkan lembaran pendaftaran menjadi ketua OSIS.
"Serius, pengen jadi ketua OSIS?".
"Iya Bab, baby setuju kan?".
"Setuju aja sech tapi kan dunia OSIS terlalu sibuk nanti kalau aku dilupain gimna?".
"Enggak kog, sesibuk apapun aku selalu akan dahulukan bab".
Dara tersipu malu mendengar kalimat yang di lantunkan kekasihnya itu. Dara pun turun tangan membantu membuat spanduk, iklan, promosion tentang pemilihan ketua OSIS untuk memilih kekasihnya. Tapi disisi lain dia juga ikut membantu partai lain dan tentunya partai lawan kekasihnya itu donk yaitu partai yang dikomando oleh Thesa. Persaingan sangat ketat, supporter Nabil hampir imbang dengan Thesa. Sebagian besar cewek memilih Nabil karena Nabil dipandang cowok yang paling di gemari cewek di SMA 78 Jakarta. Dari segi penampilan, kepandaian, gaya cool ala gitaris handal membuat cewek-cewek terpesona akan sosok seorang Nabil Firdaus. Alangkah beruntungnya Dara memiliki Nabil, memiliki seorang cowok yang diidam-idamkan para cewek. Tapi Dara juga tidak kalah okey tenarnya dengan Nabil, setiap dara main cheerleader pasti banyak cowok-cowok yang sorak buat dia, gayanya yang centil tapi memang manis pas banget dengan julukan dia baby sweet. Wajah dia yang manis terbawa aroma bayi membuat kebanyakan cowok memanggil dia "baby", sama halnya dengan cowoknya sendiri. Gadis yang satu ini lain, dia cantik, ramah, pandai tapi dia cenderung pendiam dan tertutup. Dan hanya mungkin Dara adalah seseorang yang sangat dipercayainya. Karena sifat Thesa yang ramah menjadikan supporter Tesha juga tak kalah banyak dengan Nabil. Tapi tetep Nabil Firdaus sang juaranya, dia yang memenangkan pemilihan ketua OSIS itu. Dan Thesa pemenang dengan score tertinggi kedua, berhak menjadi wakil ketua OSIS mendampingi Nabil.
"Nabil Firdaus, selamat yach aku yakin kamu bisa membawa SMA 78 Jakarta menjadi sekolahan yang maju di antara sekolah-sekolahan lainnya di jakarta". Ucap selamat Thesa pada Nabil sambil menjabat tangan Nabil.
"Makaseh Thes, tapi maju enggaknya juga tergantung kamu". Sahut Nabil.
"Loh, ko gitu?".
"Ialah ketua takkan berhasil tanpa bantuan wakil ketua, selamat juga yach Thes, kamu jadi wakil ketua OSIS untuk membantu aku memajukan sekolah kita ini".
"Wah, hari ini kayaknya banyak coklat dech buat aku, syukuran atas ketua dan wakil OSIS yang baru". Cerobot Dara dengan sangat bahagia kedua orang terdekatnya dapat meraih apa yang diinginkan.
"Shipppp". Sahut Nabil dan Thesa bersamaan.
"Tapi, aku juga punya kado special untuk cewekku". Sahut Nabil
"Iya bab, apa?". Dara yang bergembira mendengar cowoknya mengatakan hal itu.
"nanti malam aku kasih yach".
"Kog nanti malam sech, sekarang aja kenapa?".
"Bab, itu kan aku nazar kalau aku menang jadi ketua OSIS, aku kasih bab, boneka petrik trus kan tahunya menang hari ini, jadi lom beli donk". Terangkan Nabil Pada kekasihnya itu.
"yeah yeah petrik, makaseh ya bab, jadi nanti malam baby kerumahku?'
"Jelas donk, sekalian kita latihan band nanti malam di Windo Musik STudio, esok buat peresmian pengurus OSIS yang baru, sekolah kita ngadain pensi dan tampilkan konser band dan bazar murah".
"Aku yang urusin masalah bazarnya, Nabil yang urus konser itu, okey?".Sahut Thesa
"Yupz, itu planingku, nanti band aku "Nada Band" yang akan meriahkan acara tersebut, dan kalau masalah bazar murah, semuanya aku serahkan ke kamu sha, aku yakin kamu bisa." Jawaban Nabil untuk Thesa.
"Aku boleh ambil tempat nggak?". Sahut Dara.
"Apa bab?"
"tampilan dance aku disitu".
"bab, bukan nggak boleh tapi nanti kamu kecapean, kita kan dah tampil band masa kamu tampil dance juga, lagian training dan ngurusnya juga ribet kan?". Lontar Nabil pada Dara.
"Nggak sah banyak training, kita dah buat, cuma tinggal kemantepannya aja".
"Nggak usahlah bab, aku mikirin kesehatan bab, tar sakit gimana kalau kecapean?".
"okey, ketua OSIS SMA 78 Jakarta yang baru". sambil pergi dengan muka cemberut menunujukkan kekecewaan Dara terhadap Nabil.
"Daraaaa...., aku susul dia bil". Sahut Thesa.
"Nggak usah, dia itu manja, apapun kemauan dia harus diturutin, kalau nggak diturutin kaya gini dech, ngambek". Jawab Nabil
"Tapi kasihan dia bil".
"Biarin, nanti malam juga sembuh ngambeknya, aku kan mau kasih dia boneka petrik kesukaan Dara".
"Hahahaha kamu bisa aja, napa nggak spongebobnya sekalian".
"Dara suka bintang, Dara suka petrik bintang laut kawannya spongebob".
Suasana meriah di acara pensi SMA 78 dimulai dari pagi hari sampai malam. Tampilan "Nada Band" membuat semakin meriahnya saat siang hari dengan aluanan musik pop rock yang melantunkan lagu-lagu J_rock. Tak kalah ramai, bazar yang di urus Thesa pun tak sepi dari pengunjung, uang hasil bazar terkumpul lumayan banyak. Berkat pengurus OSIS yang baru, sekolah SMA 78 Jakarta menjadi sekolah yang unggul di antara sekolah sekitarnya. Pihak sekolah dan para siswa-siswinya pun merasa lebih nyaman dengan adanya pengurus OSIS yang di ketuai oleh Nabil dan wakilnya Thesa. Karena itulah kedekatan keduanya semakin dekat, Nabil yang selalu membutuhkan Thesa dalam mendiskusikan setiap program OSIS, begitu pula sebaliknya. Mereka berdua merasa gembira , menjalani kesibukan mereka di OSIS, rasa letih pun tak mereka hiraukan yang hampir tiap hari harus balik sekolah lambat disebabkan ada meeting OSIS. Tapi lain dengan Dara, setiap harinya Dara merasakan kesepian, sendirian bahkan yang biasanya waktu break, Dara selalu di temani Nabil dan Thesa, sekarang dia hanya bisa duduk makan sendiri di kantin. Balik sekolah pun Dara sudah terbiasa sendiri karena adanya kesibukan yang melanda kekasihnya. Hidup Dara menjadi sunyi, senyap dan penuh dengan kesendirian semenjak pengurusan OSIS yang baru. Berusaha menyibukan dirinya sendiri pun masih terasa sunyi di hidupnya, ingin main band bareng group bandnya tapi Bagas dan Rio selalu menolak latihan bila di ajak Dara main dengan alasan nggak ada Nabil band nggak seru, nggak asyik.
"Bagas, ayo donk kita tu sekarang jarang banget latihan tahu". Bujuk rayu Dara terhadap Bagas untuk latihan band lepas pulang sekolah, karena Dara nggak ada aktifitas lain selepas pulang sekolah, sedangkan Nabil dan Thesa ada meeting OSIS.
"Trus, nanti siapa yang main gitarnya, Nabil nggak ada". Cerobot Rio yang berperan sebagai bassist dalam Nada Band.
"Aku kan bisa dikit-dikit'. Terangkan Dara.
Sambil ketawa ngakak Bagas dan Rio keluar dari ruang kelas itu. Dan menerangkan seakan menghina Dara atas kemampuannya.
"Kalau nggak ada loe, kita bisa main, Nabil kan bisa double jadi gitaris plus vocalis, tapi kalau nggak ada Nabil, kacau pula nanti mainnya jika gitar di pegang seorang dancer." Sambil jalan pun Bagas dan Rio masih bisa melontarkan kata-kata yang semakin membuat dara menderita.
Kaleng botol minuman yang habis Dara minum dari balik sekolah, menjadi pengiring jalanya Dara menelusuri kota metropolitan yang penuh dengan asap kendaraan. Gadis itu masih asyik terus menendang-nendang botol minuman mengiringi jalannya.
"Aduh". Seorang anak kecil teriak kesakitan saat botol minuman yang di tendang-tendang kaki Dara mengenai kepalanya.
"Sory, ada luka kah?". Sontak Dara langsung lari menemui anak kecil itu dan minta maaf.
"Nggak ada sech, tapi kan sakit ka". Terangkan anak kecil seorang pengamen yang sedang menghitung jumlah uang logam yang terkumpul hasil dari mengamennya tersebut.
"Sebaiknya kita priksa ke klinik".
"Nggak usah, nggak apa kog, aku dah terbiasa kena dampak kerasnya kota Jakarta".
"xixixixi....(tertawa kecil), kamu nie yach, memang kelakuan aku tadi adalah bentuk kerasnya kota Jakarta apa?'.
"Di lihat dari muka kakak sech gitu".
"Ada apa dengan mukaku?".
"Cantik-cantik kog sendirian, mana cowoknya, lagi broken heart yach?"
"Kalau iya atau engga pun nggak ada hubungannya kale dengan kerasnya kota metropolitan ini".
"Ada, siapa bilang enggak".
"Apa?"
"Kota Metropolitan alias kota Jakarta terkenal dengan masyarakatnya yang terlalu sibuk, individualis tapi nggak semua sech, bising pokoknya yang nggak bisa ngatasin semua ini bakal berdampak seperti saya dengan mengamen modal untuk aku hidup dan muka seperti kakak, yang murung sedih mungkin ada masalah sehingga kakak harus berjalan sendirian seperti orang yang nggak ada kerjaan menendang-nendang kaleng kosong". Terangkan pengamen itu pada Dara.
"Nama kamu siapa de?'. Tanya Dara pada pengamen kecil itu
"Tino ka, kakak siapa?"
"Dara"
"Ayo kak ikut saya". Sambil menarik tangan Dara.
Dara yang berlari karena tarikan tangan Tino hingga sampai sebuah gedung tua yang tidak berpenghuni. Gedung tersebut asalnya dari sebuah Supermarket yang bangkrut karena pemiliknya tercekik oleh hutang. Biasa gedung yang tak berpenghuni terkenal angker dan banyak mistik di dalamnya, tapi gedung ini lain. Gedung tersebut sudah lama di tempati oleh Tino sebagai tempat peristirahatan dia. Dara diajak Tino menikmati indahnya kota yang di bilang keras itu dari level tertinggi di gedung tua itu. Dari puncak gedung yang tak beratapkan apapun biasa Tino meluahkan perasaan dia atas keterpurukannya melawan susahnya hidup.
"Ayah, Ibu...Dimana kalian berada". Tino yang teriak sekeras-kerasnya di atas gedung tersebut.
"Nabil kamu jahat". Dara mengikuti Tino untuk meluahkan perasaannya dengan berteriak di atas gedung tersebut.
"Memang ayah dan ibu Tino dimana?'. Sembari duduk Dara menanyakan tentang teriakan Tino tadi.
"Nggak tahu".
"Kog gitu, kenapa?'. Sambil mengusap air mata Tino yang menetes di pipinya
"Kalau aku tahu, aku nggak akan teriak seperti itu ka".
"Ini buat Tino, makan coklat baik log buat hati kita, bisa nenangin pikiran kita dan membuat kita happy". Sambil menyodorkan coklat pada Tino yang Dara ambil dari bagnya.
"Makaseh, jarang banget aku makan coklat, makaseh banget ya ka, dari kecil aku hidup dibesarkan oleh seorang pengamen, bapak menemukanku di pinggir jalan ditaruh di dalam gardus yang di dalamnya terdapat tulisan "Tolong siapa saja yang menemukan bayi ini, rawat dia seperti anaknya sendiri, aku adalah ibu yang tidak menginnginkan bayi ini dilahirkan". Makanya aku jarang makan coklat, uang dari ngamen aja hanya cukup buat makan sehari-hari apalagi mau beli gituan.
"Tino, orang tua yang kamu sebut bapak itu sekarang dimana?". Dara merasa kasihan terhadap cerita Tino hingga dia memeluk erat tubuh Tino dan menanyakan lagi tentang alkisah hidup anak kecil tersebut.
"Bapak meninggal, baru sebulan yang lalu". Sahut Tino melepas pelukan Dara.
"Kenapa?"
"Sakit keras, dan Tino nggak ada biaya buat berobat bapak".
"Sabar ya sayang, sekarang kan ada kakak Dara nemenin kamu disini".
"Mank kakak mau bergaul dengan gembel seperti aku?'
"Kenapa tidak, bergaul boleh dengan siapa aja, lagian yang bukan gembel hidupnya egois mentingin diri sendiri, nggak peduli dengan sekitar".
"Maksud kakak?"
"Tino, kenapa Tino menarik kakak ke tempat yang Tino paling disukai? padahal Tino nggak kenal kakak kan sebelumnya, tapi Tino meperlakukan kakak seperti Tino dah dekat banget mengenal kakak.
"Tino pun nggak tahu, tapi akhir-akhir ini Tino sering liat kakak jalan termenung sendiri melewati jalan ini. Kakak ada masalah?. Tino balik melempar pertanyaaan pada Dara.
"Mungkin".
"Siapa nama cowok yang tadi kakak sebut?". Setelah sesaat suasana senyap Tino menanyakan kembali pada Dara.
"Dia cowok kakak Tin".
"Kakak lagi berantem ma dia?"
"Engga,
"Trus napa tadi kakak teriak dia jahat?"
"Dia nggak peduli dengan kakak sekarang".
"Memang kalau lagi nggak peduli berarti orang itu jahat, kalau aku nggak peduli ma kakak berarti aku orang jahat juga donk".
"(tertawa kecil)....Tino, Tino...enggak lah sayang, cuma kayak Nabil nggak sayang lagi ma kakak"
"Gara-gara nggak peduli?"
Sambil membelai rambut Tino, gadis itu pun kembali memeluk erat tubuh Tino.
"makaseh ya sayang dah peduli dengan kakak"
***
bersambung.....
Apa yang akan terjadi pada Dara dan Nabil, apakah mereka masih bersama atau mungkin berpisah, atau juga ada pihak ketiga yang hadir selain Thesa,,,so jangan lupa nantikan kelanjutan
hmmm :D bagusssssssssssss
BalasHapus