Minggu, 28 Agustus 2011

Tuhan Telah Mengambilmu Sebelum Ku Bertemu Denganmu

Hidup manusia, seperti juga makhluk lainnya, adalah seperti tanaman yang hijau kemudian menguning dan layu. Manusia terlahir, beraktivitas, prokreasi, kemudian wafat. Kehidupan dan kematian adalah sebuah siklus hidup yang menandakan eksistensi manusia. Kedua sisi  yang tidak terpisahkan. Walau begitu, kematian tetap merupakan sumber rasa takut, putus asa, dan luka bagi kebanyakan orang ketika menghadapinya, bukan hanya menghadapi kematiannya sendiri melainkan juga ketika menghadapi kematian orang terdekatnya. Semua perasaan tidak berdaya muncul, ini adalah ‘kekalahan’ akhir.

Jika sobat pernah mengalami kehilangan atau kematian orang yang sangat dekat dengan sobat dan ada tanda -tanda seperti ini:
1. Menangis secara tiba-tiba waktu makan,menonton tv, di dalam bilik air,
2. Selalu terkenang dan teringat si mati secara tiba-tiba dan mood sobat berubah,
3.Tidak ingin makan,atau  tidak terlalu berselera makan,
4. Tidak boleh tidur malam,
5. Mood tidak stabil terhadap orang sekeliling sobat,
6. Marah,secara tiba-tiba atau sedih secara tiba-tiba,
Sobat di nasihatkan berjumpa doktor.Ini adalah gejala-gejal kemurungan yang perlu dirawati sebelum anda mengalami masalah kesihata, yang lebih berat lagi.
28 Agustus 2011,,,saat itu saya sedang berjalan seorang untuk membeli makanan berbuka. Biasa saya pergi dengan kawan dan selalunya berbuka tidak pernah sendirian, tapi karena ada hal jadi kawan saya pergi berbuka di luar dan terpaksa saya harus menikmati berbuka seorangan. Dalam perjalanan pulang kerumah handphone saya berbunyi, tapi tak sempat buka message di jalan. Sesampai di rumah baru saya buka message tersebut. Bercucuran air mata, desis tangis mewarnai suasana azdan magrib yang berkumandang. Confus, stres, entah apa yang saya pikirkan setelah itu, inginku marah tapi dengan siapa?
Message dari adik kandung saya berulang kali saya baca karena seolah-olah itu mimpi. Berita palsu yang menyatakan nenek saya telah Tuhan ambil dari dunia. Ternyata itu konkret, dan sontak ketika itu sekujur badanku terasa lemas dan mulut diam kaku membisu, hanya gerak air mata yang masih terus aktif mengalir di pipi.
Suara tangisan bunda semakin membuatku tercekam oleh suasana kesedihan itu, rasa penyesalan menyelimuti di hati, seakan inginku ulang kembali saat-saat ku pergi meninggalkannya dan belom sempat kembali ku bertemu dengannya tapi Tuhan telah mengambilnya.
Nenek...
Apakah kau memaafkan cucumu?
Apakah engkau memaafkan aku?
Cucumu yang bertahun-tahun tak berada disampingmu?
Yang berapa kali lebaran tak sungkem langsung di depanmu?
Nenek...
Aku sungguh sangat rindu padamu
Ingin rasanya ku memelukmu
Inginku rasanya menciummu
Nenek...
Kenapa engkau pergi meninggalkanku
Kenapa engkau pergi saat ku tak disampingmu
Aku cucu mu nek,
Aku ingin menemanimu di saat detik terakhirmu
Aku ingin memelukmu dan berucap padamu
Aku menyayangimu nek
Aku sayang nenek
Sumpahku menyayangimu nek
Betapa hati ini merindukanmu
Dan rasanya inginku bertemu denganmu
Tapi engkau pergi meninggalkanku sebelum kepulanganku...
Nenek maafkan aku...
Tuhan tempaykanlah ia di tempat yang paling mulia disisimu
I LOVE U MYGRANDMOTHER

Tidak ada komentar:

Posting Komentar